User Rating: 0 / 5

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Institusi pendidikan tinggi keperawatan  di Indonesia yang berjumlah 776 buah, 295 buah mengelola Sarjana Keperawatan dan Profesi, 481 mengelola D-III dan D-IV Profesi (Sumber, PPNI Desember 2016). Dari jumlah tersebut sekitar 10-12 % nya berada di sulawesi Sealatan. Institusi tersebut menghasilkan  lulusan perawat rata-rata dalam satu tahun sekitar 5,121  lulusan. Sementara daya serap pemeritah dan swasta di propinsi Sulawesi Selatan setiap tahunya diperkirakan hanya 15 -20 % atau sekitar 1,024 orang. Sekitar 4,097 perawat tidak mendapatkan lapangan pekerjan sesuai profesinya di dalam negeri.

 Salah satu jalan keluar agar penyerapan perawat  tersebut optimal adalah membuka peluang kerja ke luar negeri. Bila perawat tersebut bisa ditempatkan di luar negeri mereka akan mendapatkan salary bersih saat mulai bekerja rata-rata 12,5 – 22,5 juta/bulan untuk level RN atau Sarjana. Salari yang mereka terima tersebut dapat lebih besar tergantung dari negara dan hasil seleksi oleh user.

Namun demikian, terdapat kendala yang dihadapi didalam negeri, ternyata terdapat perbedaan nomenklatur perawat. Berdasarkan UU No 38 tahun 2014 tentang keperawatan, nomenklatur yang digunakan terdiri atas perawat vokasi yaitu level D-3 dan D-4  dengan sebutan sebagai Perawat Vokasi dan Sarjana Sain Terapan. Untuk lulusan sarjana Perawat profesional yaitu lulusan sarjana keperawatan ditambah program ners dengan sebutan profesi perawat generalis atau Ners; dan perawat spesialis yaitu level maguster dan doktoral. Untuk perawat profesional nomenklatur yang digunakan adalah Registered Nurse (RN).  Disamping perbedaan nomenklatur juga terdapat kesenjangan kempetensi teknis  berupa Framework of Nursing Practice, Management of Care (comprising Professional Practice, Consumer Rights and Professional Advancement and Development) serta Leadership and Nursing management ; serta juga kompetensi bahasa.

Berdasarkan kesenjangan kompetensi teknis dan bahasa tersebut maka pada saat dilaksanakan rekruitmen oleh user dari negara tujuan terdapat passing grade/ tingkat kelulusan yang sangat memprihatinkan. Passinggrade untuk diterima diluar negeri yaitu untuk perawat sarjana berkisar 2-3 %.

Mencermati situasi dan tantangan tersebut, maka untuk mencapai hasil yang optimal terhadap pencapaian standar atau meningkatkan passing grade tersebut maka diperlukan Up Skill berupa up-skilling RN. Upskiling RN memerlukan waktu 500 -  750 Jam Pelatihan. Melalui Up Skil RN diharapkan passing grade akan meningkat yaitu  menjadi 70 %.

Upskilling Profisiensi RN di Makassar kali ini, dilaksanakan mulai tanggal 29 November – 30 Desember 2016, atau setara dengan 300 – 350 jam pelatihan (JPL).

 

Tujuan Upskilling Profisiensi RN

Penyelenggaraan Up Skill profisiensi  RN di Sulawesi Selatan ini bertujuan untuk:

1.      Meningkatkan passing grade perawat sarjana di Sulawesi Selatan menjadi 70 % saat dilakukan uji Prometric – RN, atau interview oleh user.

2.      Meningkatkan kompetensi teknis dan bahasa sesuai Negara tujuan.

3.      Meningkatkan daya saing dan penyerapan kerja di Negara-Negara Timur Tengah.

4.      Menurunkan angka pengangguran perawat sarjana di Sulawesi Selatan

5.      Meningkatkan status social ekonomi masyarakat di wilayah Sulawesi Selatan, khususnya keluarga perawat sarjana yang bekerja di luar negeri

 

Sasaran

Pada penyelenggaraan Up Skill Profisiensi RN ini, sasarannya adalah :

  1. 1. Perawat sarjana lulusan sebelum tahun 2015, sehingga bisa segera diterima dalam waktu yang relative lebih singkat saat wawancara user.
  2. 2. Memacu produsen perawat untuk memperbaiki system dan proses penyelenggaraan pendidikan sarjana perawat yang berorientasi pasar kerja  luar negeri.
  3. 3. Meningkatkan produktivitas perawat sarjana Sulawesi selatan sesuai dengan kapabilitas yang dimiliki.
  4. 4. Meningkatkan dana remittance ke dalam negeri di Sulawesi selatan
  5. 5. Mengimplementasikan kehadiran Negara dalam penyiapan supply dan penempatan demand TKLN

 

Dasar Hukum Penyelenggaraan Upskill Profisiensi RN

  1. UUD 1945 yang telah diamandemen, dalam pasal 28 terkait Hak Warga Negara;
  2. Nawa Cita  nomor 1 dan 6.
  3. Undang-Undang No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen;
  4. Undang-Undang No. 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit;
  5. UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan;
  6. UU Nomor 38 tahun 2014 tentang Keperawatan
  7. UU No 39 tahun 2004 tentang Penempatan dan Perlindungan TKI di Luar Negeri.
  8. Perpres No 81 / 2006 tentang Pembentukan BNP2TKI
  9. Inpres No 6/2006 tentang Kebijakan Reformasi Sistem Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia.
  10. Konvensi PBB tahun 1990 tentang hak-hak seluruh pekerja migran dan anggota keluarganya yang diratifikasi melalui UU No.6 tahun 2012,
  11. Aturan perundangan nasional, yaitu UU tentang Traficking (perdagangan manusia), yang diatur dalam UU No. 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang

 

Faktor-faktor Pendukung

Terselenggaranya Upskiling RN 2016 ini terlaksana karena terdapat dukungan yang sangat baik dari instansi-instansi  :

  1. 1. Dukungan dana dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPP&PA), yang bersumber dari DIPA KPP&PA tahun 2016. 
  2. 2. Komitment BNP2TKI cq Deputi Kerjasama Luar Negeri dan Promosi, untuk terus meningkatkan kompetensi CTKLN melalui  kerjasama dengan berbagai instansi di pusat dan daerah seperti BP3TKI Makassar yang patut dicontoh. 
  3. 3. Komitmen Poltekkes Kemenkes Makasar, berupa komitmen SDM yang kompeten untuk penyelengaraan upskiling yang dapat dijadikan role model. 
  4. 4. Komitmen AIPNI, PPNI DPW Sulsel, AIPVKI, para pimpinan Stikes dan Universitas penyelenggara pendidikan tinggi keperawatan se Sulsel. 
  5. 5. Dukungan pemerintah daerah dengan memberikan kesempatan penyelenggaraan upskiling tahun 2016 ini. 

 

Hasil Penyelenggaraan Upskill

Penyelenggaraan upskilling Profisiensi RN, telah dimulai tanggal 29 November 2016, walaupun dibuka resmi pada tanggal 30 November 2016 oleh Direktur Poltekkes Kemenkes Makassar, Dr. H. Ashari Rasjid, MS di Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP) Makassar. Penyelenggaraan ditutup secara resmi pada tanggal 29 Desember, 2016 oleh Deputi KLNP – BNP2TKI, Dr. Drg. Elia Rosalina Sunitio, MARS., MKK; namun demikian pada tanggal 30 Desember 2016 fasilitator dan panitia masih melakukan dialog interaktif di Hotel Quality Makassar.

Upskilling RN  di Makassar diselenggarakan pada tanggal 29 November sampai dengan 30 Desember 2016 oleh Poltekkes Kemenkes Makasar Sulawesi Selatan diawali dengan melakukan TOT Profisiensi RN, yang diikuti oleh 36 orang calon fasilitator dari rumah sakit dan perguruan tinggi kesehatan se- Sulawesi Selatan. Mereka yang antinya akan bertugas melakukan upskilling profisiensi RN. Materi yang diberikan pada TOT Profisiensi RN meliputi : orientasi standar kompetensi RN, LPN (Licensed Practical Nurse) dan Caregiver; mengembangkan kurikulum dan silabus, mengembangkan bahan test dan uji kompetensi, teknik dan metodologi upskilling, review test, evaluasi upskilling, laporan upskilling. Waktu yang diberikan selama 50 JPL termasuk teori dan praktik. Dari 36 orang peserta  TOT Profisiensi RN yang berhasil lulus hanya 33 orang. Mereka berhak mendapatkan sebutan sebagai Reviewer RN.

Tahap berikutnya dilakukan upskilling profisiensi RN selama 300 JPL, yang diawali dengan pemberian materi tentang Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS) in Disaster selama 53 JPL dengan akreditasi dari Kementerian Kesehatan RI. Selanjutnya diberikan pembekalan teknis, budaya  dan bahasa Inggris. Materi yang diberikan dalam pembekalan teknis dan budaya mencakup : using professional standard for RN, Nursing care of behavioral and emotional problems throughout the life span,  Nursing care of the childbearing family, Nursing care of children & family, Nursing care of the acute or cronically ill adult, Review of pharmacology, Common nursing treatments : Diagnostic procedures, Ethical aspects in nursing of middle east country, visit study at the hospital,  Clinical conference & solve the problems in the overseas country; serta nursing intervention and written test orientation. Untuk materi Engslish for nursing mencakup : Up Skilling Programe Policy in   the National Board for Placement & Protection Indonesian of Overseas Workers in Health Sector, Introduce English for special purpose  International  Nurse : Nursing Vocabulary, Human Body, Nursing Supplies, Visiting Hours, Medications, Nursing intervention, Make up CV and interview; individual presentations :  tools and materials in nursing practice, terminology of  laboratory tests, tool looms in the hospital and patient movement requirements, communication with patient in variety situation, Acknowledgments to others, Create a good personal curriculum vitae, dan Interviewing.

Pada akhir kegiatan, peserta di evaluasi dengan menggunakan test NCLEX-RN, dengan metode paper based test, hasilnya semua peserta belum ada yang  lulus. Kemudian diturunkan menggunakan standar uji Prometric-RN, hasilnya lulus 4 orang. Peserta juga diuji dengan standar test LPN, hasilnya 19 orang lulus LPN.

 

Kendala dan rekomendasi

Kendala

Kendala yang yang didapatkan selama upskiling tersebut, meliputi :  waktu yang tersedia merupakan waktu untuk upskiling LPN, kemampuan bahasa inggris peserta yang bervariasi, fasilitator perlu ditingkatkan kompetensinya khususnya pada pengalaman luar negeri, dukungan jaringan internet yang belum siap selama 24 jam, motivasi belajar mandiri peserta masih belum optimal, sumber-sumber belajar seperti bahan pustaka yang bersifat online masih terbatas.

Rekomendasi

Untuk upskilling RN yang akan datang direkomendasikan sebagai berikut :

1.      Waktu yang disediakan idealnya berdurasi 500 – 750 JPL

2.      Dilakukan seleksi kandidat, dapat dengan placement test

3.      Fasilitataor diberi pengalaman luar negeri atau yang pernah bekerja diluar negeri dengan kualifikasi RN.

4.      Jaringan internet terkoneksi 24 jam

5.      Bahasa inggris diberikan berupa English for nursing dan bersifat aktif.

6.      Dukungan instansi yang sudah solid perlu dipertahankan dan dikembangkan khususnya kepada KPP&PA, BNP2TKI dan BP3TKI Makasar, Poltekkes Kemenkes Makassar, AIPNI regional Sulawesi, AIPVIKI regional Sulawesi, DPW PPNI Sulsel.

7.      Menghadirkan PPTKIS yang kompeten serta user yang tepat pada akhir upskilling.

Penyelenggaraan Upskiling Profisiensi RN, perlu terus dilaksanakan tidak hanya di propinsi Sulsel tetapi juga diberbagi provinsi di Indonesia, sehingga Indonesia kelak dapat mengirim perawat pada level 7, yaitu Registered Nurse.

 

Oleh : Sudiharto

 

Ka. Subdit Analisis dan Keterpaduan TKLN, BNP2TKI.